Postingan

Subuh Tanpa Kata

Gadis itu berhenti menarikan jemarinya untuk menulis. Lama sudah dia tidak menuangkannya dalam paragraf. Karena segala sesuatu tentang tuannya itu, sudah terlanjur basah dia ungkapkan pada Tuhan. Tiap jengkal perasaannya sudah tersampaikan. Jadi seakan tak ada lagi celah untuk dituliskan. Gadis itu kembali terdiam. Tidak tahu lagi apa yang harus ditulisnya. Tentang cinta? Apa benar dia mencintainya? Dia terlalu malu, terlalu takut. Tentang rindu? Inikah yang namanya rindu? Buktinya sudah reda dan tak semenggebu kata orang-orang.. Lalu apakah tentang doa? Gadis itu berpikir ulang. Menggeleng. Doa itu rahasianya. Doa itu percakapan Tuhan dengannya. Tak perlu diumbar-umbar. Sudah tak ada lagi yang perlu dituliskan. Kecemasannya sudah dibawa pulang oleh kepasrahan. Jadi baiknya, yang ia tuliskan adalah diamnya. Apa-apa yang tak bisa kita rengkuh, bukannya akan terengkuh oleh doa? Kalaupun tidak, doa susah berhasil melapangkan hati dan menguatkan jiwa (:

TAPI...

Kau tahu yang ditakutkan kebanyakan perempuan? Ialah lamanya penantian. Karena semakin lama waktu menemani penantiannya, semakin lama pula ia tenggelam dalam prasangkanya sendiri. Yang dikhawatirkan, waktu melesat terlalu cepat beriringan dengan ketidakpastian, lalu meninggalkannya di belakang. Dengan sebuah tanda tanya besar. Ia butuh bertanya padamu, tapi terlalu takut. Ia butuh bicara, tapi terlampau malu. Sementara sebenarnya perempuanpun tahu, bahwa bagi laki-laki, berjuang butuh begitu banyak waktu. Tapi . . .

-

Aku belum bisa membayangkan bagaimana perasaanku nanti setelah tau akhir dari perjuangan ini adalah: kamu telah memilih yang lain. Aku belum tahu apakah aku akan ikut berbahagia atasnya atau justru sebaliknya. Aku juga belum tahu langkah apa selanjutnya yang bakal kutempuh untuk melanjutkan perjalanan setelah menelan kenyataan itu.. Yang kutahu betul adalah…sekarang aku sedang mengusahakanmu, dengan caraku. Dengan cara-cara yang mungkin kamupun tidak pernah menyadarinya.. Mungkin percakapan kita sederhana, hanya sebatas itu–bahkan aku percaya banyak yang lebih dekat denganmu daripada aku. Tapi aku tidak akan berhenti begitu saja. Tidak akan berhenti sebatas percakapan singkat kita.. Aku akan selalu memulai percakapan dengan-Nya... Menceritakanmu, mimpi-mimpiku, keyakinanku, dan yaaa…tentang aku yang tak tahu banyak soal kamu tapi bisa begitu yakin bahwa kalau kita disatukan, bakal lebih baik, bakal lebih memberi manfaat untuk sekitar dibanding aku atau kamu yang sendiri saat ini...

LANTAS?

Kita dekatpun tidak, hanya lewat cerita. Lantas mana boleh aku bilang suka? Kita saling bertanyapun tidak, hanya merasa tahu jawaban lewat terkaan benak-benak yang sok bijak. Lantas mana boleh aku mengaku cinta? Lalu apa bedaku dengan pungguk yang merindu bulannya? Sama saja, sama-sama menjatuhkan harap pada hal yang susah untuk digapai. Tapi asal kau tahu, sejak saat itu, sejak pertemuan itu, kau selalu punya alasan menyimpan senyumku. Entah sadar ataupun tidak. InsyaAllah yang ditakdirkan bertemu, akan segera bertemu :) Yakin saja. Tapi jangan lupa melapangkan. Lapang selapang-lapangnya, sehingga takperlu patah ketika kecewa….

KO-DE

Percayalah, tak ada hal yang biasa-biasa saja, bagi laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa, ketika pembicaraan mereka sudah masuk bab masa depan. Oh, come-on, kita tidak akan membicarakan bagian penting dari kehidupan kita dengan seseorang yang biasa saja, kan? Hanya mereka yang menurut kita spesial, yang kita berikan izin untuk mengetahui bagian-bagian penting dalam hidup kita. Hanya kepada mereka yang kita anggap spesial, kita begitu penasaran tentang rencana masa depannya. Maka kepada kaum hawa yang saya hormati, jika ada laki-laki yang secara tersirat maupun tersurat menyinggung rencana masa depannya gimana, mau bekerja atau jadi ibu rumah tangga, dan pembicaraan sejenisnya; maka hampir dipastikan, laki-laki tersebut sudah ada kecenderungan. Tapi jangan GR dulu, karena sifatnya masih penjajakan. Ada banyak hal yang harus dikonfirmasi oleh laki-laki dari obrolan-obrolan tersebut. Salah satunya, memastikan kalau perempuan itu mendukung dan bisa menyesuaikan dengan renca...
Kamu masih disitu, ya. Dan akupun seperti ini, masih disini. Kita berdua—entahlah aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya sama-sama diam di tempat. Aku tidak tahu bagaimana caramu mengusahakanku atau bahkan kamu memang takpernah segigih itu untuk memperjuangkan cerita ini tapi bagiku mau kau berjuang disana atau tidak, aku selalu seperti ini. Ya, persis seperti ini saat diam-diam aku menelusurimu lewat gadget , di dunia maya. Satu-satunya dunia penghubung bagimu dan orang sepertiku. Aku hanya bisa merasa bersamamu di  social media . Tolong digaris bawahi  me-ra-sa.  Tapi gadis ini tak berani memulai percakapan, meninggalkan komentar, atau seperti yang lain dengan bebasnya meninggalkan  emote-emote  unyu .  Sudah kubilang aku hanya diam di tempat. Kabarnya kau seperti kupu-kupu; lari bila kukejar. Maka aku menggunakan logika yang sama agar kau datangi, diam bagai bunga yang punya nektar paling ranum sedunia. Tapi rasanya susah, aku lebih mirip seperti d...

Tulang Rusuk

A :  kak, kemarin aku habis diskusi sama mas X B :  oya? Diskusi apa? A :  soal perempuan yang katanya diciptakan dari tulang rusuk laki-laki B :  lalu? A :  mmm, ternyata kayanya kan tulang rusuk laki-laki nggak cuma satu kak. Jadi bisa jadi ada beberapa perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk orang yang sama B :  hmmmm I see A :  Terus gimana dong kak? B :  jangan fokus disitunya dek A :  maksudnya kak? B :  terkait ini diciptakan dari tulang rusuk siapa, berapa kembaran rusuknya, dan blablabla itu nggak bisa kita logika secara sederhana. Sudah ranahnya Yang Nyiptain. Yang jelas yakin saja bahwa kita diciptakan berpasang-pasangan. Aku juga belom tentu siap menerima keputusan itu, tapi...gimanapun ayo difokuskan aja ke penciptanya. A :  hmmm yasihhh B :  kita sudah diciptakan, bersyukur aja. Terlepas dari ini rusuk siapa, kita ngga disuruh nyari kan? Yang kita disuruh nyari adalah ridhaNya. A :  berar...